Meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang menyenangkan tentu sangat digandrungi kaum remaja, khususnya remaja putri. Mereka bisa hangout bersama teman-teman sebayanya mengecap masa-masa muda yang penuh keindahan. Hal ini biasanya mereka lakukan setelah seharian tenggelam dalam penatnya kesibukan sekolah atau waktu-waktu malam Minggu. Barangkali bagi sebagian besar remaja, waktu-waktu luang inilah yang paling difavoritkan untuk ajang rileksasi dari kesibukan sekolah yang dirasa semakin menyiksa (bagi para remaja yang engga doyan berpikir he...he..). Dipungkiri atau tidak para remaja harus rela menyerahkan aturan hidupnya kepada sistem dan aturan yang berlaku di tempatnya bersekolah, didikte oleh seabgreg tata tertib yang membuatnya tak berkutik memanjakan hatinya.
Sekolah menganjurkan busana Islami harus dikenakan para siswinya, bagi siswi yang sudah terbiasa berbusana muslim tentu ini bukan masalah yang berarti, tetapi bagi sebagian siswi yang lebih suka berbusana casual dan modis, ini akan merampas rasa kenyamanan tampilannya. Agama Islam memang mewajibkan kaum hawa (mo yang masih kecil, dewasa, apalagi ibu-ibu) untuk menutup aurat. Namun di negeri kita yang pluralis ini tidak menempatkan syariat Islam sebagai aturan tertinggi, so pendalaman nilai-nilai agama setiap orang juga berbeda, ada yang fanatik, sedang-sedang saja, dan awam. Begitu pula bagi sebagian siswa, mengenakan busana muslim hanya karena todongan aturan sekolah, ikut-ikutan teman, tetapi banyak juga yang berjilbab karena tuntunan ajaran Islam.
Tidaklah mengherankan bila seorang siswa rapat menutup auratnya saat di sekolah, tetapi akan berbusana “blak-blakan” saat di luar “zona” aturan sekolah tak bisa menjangkau. Salah satunya berpenampilan modis dan casual dengan “hotpants”. Tentu ini hak pribadi masing-masing orang untuk berpenampilan sesuka hatinya, tak ada hukum dan aturan negara yang melarang orang untuk mengikuti trend fashion. “suka-suka guelah, mo make pakaian apah”, bantahan yang akan meluncur dari para ABG ini.
Jadi tidaklah aneh jika di sekolah remaja rapat-rapat menutup auratnya, namun setelah keluar sekolah jangan tanya mereka akan tampil yahuuuts mempertontonkan kemolekan tubuhnya. Siapa yang akan diuntungkan dengan pemandangan spektakuler ini ? tentu abang Becak dan orang yang lalu lalang(termasuk penulis juga kaleee he ehm...) di jalanan umum, makanya sekarang masyarakat umum sudah jarang yang terkena penyakit mata he...he....(khan obatnya murah dan gratis lagi, cukup nongkrong di jalan, terus panceng dech para abg yang lewat dengan hotpants-nya, lumayan bukan untuk memangkas cost kesehatan mata).
Dari sisi kenyamanan dan fleksibilitas, berbakaian dengan celana pendek alias hotpants bagi sebagian remaja putri merupakan gaya berbusana yang tidak berbelit-belit dan juga nge-trend, modern, up todate, dan ga kampungan. Rok mini dan celana mini sebenarnya ga ada bedanya, hanya bentuk saja yang berbeda, tetapi sensasi yang ditimbulkannya sama saja he...he....sama-sama mempertontonkan daerah paha. Dan itu mengundang tafsiran sendiri-sendiri dari pandangan setiap orang, mungkin menimbulkan decak kagum, penilaian miring, acuh tak acuh, ataupun sisi syahwat.
Tulisan ini tidak menjadikan trend fashion yang satu ini sebagai polemik, setiap orang termasuk remaja putri sah-sah saja mau berpenampilan seperti apa. Ajaran Agama memang jarang bersanding dengan trend fashion masa kini. Tinggal bagaimana tanggapan dan konsep pandangan masing-masing individunya saja, seberapa besar manfaat dan kesesuaian trend fashion itu diikuti ? Kalau memang konsep pembenarannya condong kepada fleksibilitas apakah berbusana muslimah menyebabkan seorang ahwat terbatasi ruang geraknya ?, kalau trend fashion hotpants lebih modern dan modis ? apakah tidak ada busana muslimah dengan mode dan corak yang lebih keren ? sekali lagi pilihan setiap orang punya kebebasan yang mutlak. Anda yang mengenakan busana, satu pandangan mata yang menatap, seribu nuansa yang akan tercipta. (AA)










