Selama kurang lebih 9 bulan dibuai dalam rahim ibu kita tidak sepintaspun dalam pikiran kita bagaimana kelak setelah terlahir ke dunia. Tiada kompromi-kompromi barang sesaat untuk mengisi “daftar menu” takdir dengan lembaran-lembaran hidup yang sesuai selera hati kita, semuanya sudah alamiah menyatu seiring dengan kelahiran kita ke mayapada ini. Saat itu kita menjadi makhluk Tuhan yang polos, suci, mungil, tak berdaya dan tanpa hingar bingar pergolakan ambisi. Kalau boleh memilih mungkin setiap bayi mendambakan lahir dari rahim seorang ibu yang ningrat, kaya raya, intelek, bermartabat dan berwajah rupawan. Dan tak akan sudi keluar dari rahim seorang ibu yang bertahtakan kemiskinan dan berhias keprihatinan, tapi apalah daya gurat-gurat takdir sudah digoreskan di pualam perjalanan hidup ini. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa dihindari, mereka atau bayi-bayi yang terlahir dari kalangan ini harus tetap menapaki lembar hidup dengan suka cita, setidaknya ibunya masih memiliki sisi yang sangat bernilai, yaitu kasih sayang. Karena di zaman yang konon peradabannya tinggi ini, tidak sedikit seorang ibu menelantarkan bayinya atau bahkan merampas hak hidup sang bayi.
Waktu terus bergulir, zaman berganti begitu cepat, dari bayi tumbuh menjadi kanak-kanak. Berbagai keindahan dan manisnya hidup kita reguk bersama orang-orang yang kita kasihi. Pada masa itu mungkin acapkali orang-orang disekeliling kita bertanya, “Nak, kalau besar mau jadi apa ?” dan spontan mayoritas menjawab dengan lugas dengan beragam jawaban, “Mau jadi tentara, jadi presiden, jadi polisi, jadi dokter, jadi bidan, jadi artis, jadi fotomodel”, dan sebagainya. Tapi kita tak akan pernah mendengar dari mulut mungil mereka menjawab “mau jadi pemulung, jadi penjahat, jadi koruptor, jadi pembantu, jadi gembel, jadi pemabuk, jadi pengedar narkoba, jadi kuli, jadi tukang beca, jadi GTT, jadi pesuruh”, dan predikat-predikat “miring” lainnya. Wajarlah setiap anak punya cita-cita yang dapat membanggakan kedua orang tuanya dan mengidolakan figur yang dianggapnya sempurna.
Masa kanak-kanak kini telah terkubur bersama kenangan manis, babak baru telah terhampar di hadapan mata. Angan-angan di masa kanak-kanak tinggal isapan jempol belaka, kita dihadapkan pada tuntutan perut, seribu satu peluang, dan gesekan yang tajam persaingan hidup. Jadilah kita menghanyutan asa selama ini ke lembah kekecewaan, dibiarkan dicabik-cabik oleh ketidakberdayaan. Udara terasa berat, lunglai kaki melangkah, mentari esok harus tetap kita songsong.....apapun “sajian menu” kita harus tetap dinikmati dengan hati yang ikhlas dan lapang. Lakukan pekerjaan yang sedang kita hadapi dengan suka hati, dan biarkan pekerjaan yang kita sukai menjadi penghias semangat dari pekerjaan yang kita geluti. Mungkin dengan begini, udara di sekitar kita terasa ringan, langkah kaki menjadi gesit setiapkali menghadapi setumpuk pekerjaan yang menanti. (Oke coiii....tulisan ini bentuknya curhat atau berbagi pengalaman terserah penilaian pembacanya....penulis kagak ngarti...yang penting aku ingin menulis saja....walau isinya rada sentimentil....yach....daripada melongo....nanti malah kesambettttt he....he....)
Pasang sebagai favorite
Bookmark
Email ini
Hits: 2924
Komentar (0)

Tulis komentar
Anda harus masuk untuk menerbitkan sebuah komentar. Silahkan daftar bila anda belum punya akun.









