Tuntaslah sudah air rakhmat_NYA mencurahi mayapada
Berikan kesejukan dan keheningan dalam relung surga kecilku
Buah hati merapat dalam pelukan tuk hadirkan sebuah pengakuan
Bibir mungil tiada hadirkan kata-kata duniawi, dalam riuhnya nuansa kemurnian terlontar sebuah kalimat yang terlontar tiada berakar
“Pak…kenapa di langit ada pelangi….”
“Ooo… itu ada bidadari yang turun ke bumi”…jawab ku sekenanya…mata si mungil berpijar sekejap…namun gumannya tiada terwujud dalam rangkaian kata hanya arah pandangnya kembali arahkan ke cakrawala tiada terbaca
Sejenak kalbu tergelitik…adakah sang bidadari di surgawi sana
Kan kudapati dari perlawanan ku selama ini
Takdir ku seorang lelaki yang di letakan sebagai khalifah tuk menjadi mentari keluarga dari gelap dan pekatnya roda kehidupan… menjadi rembulan keluarga di kala riuh dan sorak na panggung dunia tak lagi ramah serta santun lagi
Setengah abad sudah ku sisiri tepian mimpi, namun tiada kutemui bidadari mayapada
Perhiasan dunia silih berganti menyapa kehidupan ku sesekali menggodaku ajak ku menari dalam panggung nista
Hempaskan aku di bibir jurang laknat-NYA
Penat serta panas nya sebuah epic rutinitas belumlah tuntas terasa
Beranda samping singgasana ku hidangkan kenyataan yang ada
Bersama mahluk separuh jiwa datangkan kebanggaan serta kebahagian tiada tertuangkan media, hingga tawa canda iringi suasana terselip perkataan si bocah seraya tunjukan jari ke arah ufuk barat
“Pak… kenapa sore ini langit warna merah darah”…, kembali titipan ilahi ku menggoda imajinasi kedewasaan ku
“Nak…itu tanda na dunia sudah tua…seperti bapak mu ini”….tanpa rasio terlontar sudah dari bibir ini
“Kenapa orang bisa tua…pak…lalu kalau sudah tua nanti mati yah”… lanjutnya luputkan dari sebuah ekspresi
“Yah memang begitu adanya… karena itulah engkau ada anak ku”… seraya ku usap kepala tiada bernoda… ia hanya mengangguk ikuti gerakan usapan kasih yang merasuki buluh darahnya…senyum simpul terlempar tiada ku rekayasa melihat respon yang ada…tak sadar hembusan napas ini sisakan pembenaran diri
Seiring putaran waktu yang ku punya hampir tak tersisa ku berfoya-foya tuk mengejar matahari….kadang ku larut serta hanyut dalam tarian dunia fana
“tiada pembuktian yang tersandang dari seorang lelaki dengan hentakan irama harta….tahta…wanita”, kerap dentingananya pekak kan mata hati
Di sisa roda waktu yang tak ku kenali ku rangkai kepingan diri tuk sebuah ujud ku sebagai seorang insani
“pak…masuk ke dalam yuk…kasihan ibu sendirian”…ku tersentak…seraya menganguk ku rengkuh dalam dekapan tangan ini. Nak …karena lewat engkaulah ku merasa seorang manusia bathin lirih berkata.










Akses Web