----------------------------------------------------------------------------------------------
Tahukah Anda kalau tiket masuk ke museum itu lebih murah
dibandingkan dengan yang harus Anda bayar untuk jasa WC umum?
----------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan Retrospektif
Terlampau hina untuk membandingkan tiket masuk ke museum dengan tiket masuk jasa WC umum, tapi inilah kenyataan pahit yang ada di depan mata kita: sudah sebegitu murahnya masuk museum, tapi belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pendidikan dan rekreasi.
Kepada Anda para siswa, selama Anda menjadi siswa SD-MI/SMP-MTs/SMA-SMK-MA, berapa kalikah Anda mengunjungi museum dalam setahun? Pernahkah Anda diajak oleh orang tua Anda untuk mengunjungi museum atau tempat-tempat bersejarah? Pernahkah Anda mengikuti program sekolah untuk mengunjungi museum atau tempat-tempat bersejarah?
Kepada para orang tua siswa, pernahkah Anda mengajak putra-putri Anda untuk berekreasi ke museum atau ke tempat-tempat bersejarah, seperti Keraton Kasepuhan, Masjid Agung Cirebon, Keraton Kanoman, Goa Sunyaragi, atau Museum Linggajati? Ke mana liburan sekolah anak Anda kemarin berekreasi? Ke mana keluarga Anda memanfaatkan liburan lebaran yang lalu untuk berekreasi? Boleh jadi para orang tua sering mengajak putra-putrinya untuk berekreasi ke pemandian Linggajati3, tetapi terbersitkah untuk sekalian mengunjungi Museum Perjanjian Linggajati tempat Perjanjian Linggajati dilakukan?
Jangan dulu mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada siswa dan orang tua. Anak-anak di sekolah tidak terbersit untuk mengunjungi museum jika tidak ada program sekolah, sementara para orang tua mungkin beranggapan bahwa tidak terlalu ada gunanya memperkenalkan museum kepada putra-putrinya. Pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin lebih pantas diajukan kepada guru Sejarah SMA-MA-SMK, guru IPS SMP-MTs, guru kelas V/VI SD-MI, dan para pengelolanya. Apakah Anda atau sekolah Anda memprogramkan kunjungan museum dan/atau tempat-tempat bersejarah pada semester ini atau pada tahun ini?
Pertanyaan-pertanyaan di atas, yang diajukan kepada siswa-orangtua-guru-sekolah, adalah pertanyaan-pertanyaan retrospektif untuk mengukur kedekatan kita dengan museum dan tempat-tempat bersejarah: seberapa dekat kita dengan museum dan tempat-tempat bersejarah?
Ironis sekali, bahwa jumlah pelajar pengunjung museum selalu lebih sedikit daripada jumlah pelajar pengunjung tempat rekreasi. Pelajar Jakarta dan sekitarnya lebih banyak mengunjungi Dunia Fantasi (Dufan) daripada Museum Fatahillah, lebih banyak mengunjungi Kebun Binatang Ragunan daripada Museum Perumusan Naskah Proklamasi, atau lebih banyak mengunjungi Taman Safari daripada Meseum Sumpah Pemuda. Jangankan objeknya berjauhan, museum yang berada di dekat tempat pemandian sekalipun, selalu mendapat skore yang rendah jumlah pengunjung dibanding dengan pengunjung tempat pemandian, seperti yang terjadi pada Museum Perjanjian Linggajati dan pemandian Linggajati.
Jika kita renungkan lebih mendalam, fakta ini menyuguhkan sebingkai potret kusam pendidikan kita: kita kerap membiarkan diri lepas dari masa lampau.
Perbandingan Kontras
Untuk lebih menguatkan renungan ini, perhatikan potret pelajar berikut ini. Pada liburan sekolah yang lalu, saya diajak mahasiswa program Pariwisata untuk mengunjungi beragam objek dan daya tarik wisata pada beberapa titik di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Museum di Trowulan (Mojokerto) dan Museum di Dieng (Wonosobo-Banjarnegara)4 masuk ke dalam daftar kunjungan di antara beberapa objek dan daya tarik wisata yang akan mereka kunjungi. Karena kondisi transportasi dan waktu, salah satu agenda dalam daftar kunjungan harus dihapus: Museum Trowulan. Kenyataan getir saya rasakan ketika melihat kontras perbandingan terhadap generasi muda Indonesia masa kini: mereka begitu antusias untuk mengunjungi Jawa Timur Park5 di kota Batu, tetapi mereka kurang bersemangat untuk mengapresiasi koleksi Museum di Dieng, dan bahkan tidak menyesal ketika jadwal kunjungan museum di Trowulan dihapus dari daftar kunjungan mereka.
”Museum tidak (se)menarik seperti Kebun Binatang,” begitu kata arkeolog Bambang Sumadio. Jika Kebun Binatang menyajikan lingkungan yang menyenangkan, sehingga menghasilkan daya pikat pengunjung yang mengundang untuk kembali lagi mengunjungi, tidak demikian halnya dengan museum. Benda-benda mati koleksi museum tidak banyak memikat pengunjung. Guide museum yang tidak seatraktif guide kebun binatang, membuat citra guide di benak pengunjung hanya sekedar penunjuk arah dan bukan orang yang mengantarkan pengunjung ke masa lalu atau menghadirkan masa lalu ke hadapan pengunjung museum.
Meskipun Kebun Binatang dan museum memiliki kesamaan, yakni menyajikan isi yang jelas, tetapi Kebun Binatang lebih atraktif dibanding museum, sehingga Kebun Binatang lebih dipilih untuk dikunjungi daripada museum. Kebun Binatang berisi binatang-binatang yang dikelompok-kelompokkan berdasar nomenklatur Familia-nya, dan pada masing-masing kelompok ini menghadirkan suasana yang atraktif. Sementara itu, isi koleksi suatu museum, semua kelompok nomenklaturnya menghadirkan suasana bisu, senyap, dan kuno. Nama-nama Taman reptil, Taman Burung, Taman Nasional Komodo dan semacamnya memang sejajar dengan Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Tekstil, Museum Soesilo Soedarman, tetapi kelompok ”taman” mengandung suasana yang sangat atraktif, sementara kelompok ”museum” mengandung image statis dan bisu.
Belum lagi, sebagian nama-nama museum tidak menunjuk pada koleksinya, sehingga dari namanya saja tidak menjadi daya tarik untuk mengunjunginya. Dapatkah Anda banyangkan, apa isi Museum Sri Baduga di Bandung? Apa isi Museum Mpu Tantular di Surabaya? Apa isi Museum Gajah di Jakarta? Apa isi Museum Fatahillah? Nama-nama itu tidak menunjuk pada koleksinya, sehingga sering mengecewakan keingintahuan pengunjungnya.
Kenyataan-kenyataan ini merupakan potret kusam dari ketidakmenarikan pusat-pusat sumber belajar bagi siswa, orang tua siswa, guru dan sekolah.
Kalaupun dari museum dan tempat-tempat bersejarah itu ada yang menarik, ini pun bukan kabar baik bagi kita, karena yang tertarik adalah pada kolektor yang dengan insting kriminalnya berusaha memburu koleksi museum atau fosil-fosil hasil ekskavasi. Berita akhir-akhir ini yang muncul dari museum Surakarta, dari ladang world heritage Sangiran, atau dari ladang pati ayam Kudus adalah berita duka tentang penjarahan koleksi museum dan fosil.
Pusat Sumber Belajar yang Mengundang
Idealnya, sekolah dan pusat-pusat sumber belajar yang ada di luar sekolah (termasuk di dalamnya museum dan tempat-tempat bersejarah), merupakan institusi yang dapat mengundang bagi pembelajar. Prof. Conny R. Semiawan menyebutnya sebagai ”an invitational learning environment” yang di dalamnya terdapat interaksi antarmanusia yang intensif. Dengan mengidealkan sebagai institusi yang dapat mengundang bagi pembelajar, sekolah dan guru-guru di dalamnya sudah harus menggeser kecenderungan pembelajaran behavioristik yang cenderung bersifat strukturalis (karena sering mengedepankan interaksi satu arah dan sering menafikan interaksi manusiawi antarmanusia).
Museum dan tempat-tempat bersejarah sebagai pusat sumber belajar yang mengundang, sebenarnya sudah merupakan sebuah keniscayaan. Kebanyakan siswa, tidak merasa lengkap belajar sejarah jika belum berkunjung ke museum, atau ke situs sejarah in situ, atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya. Pada kebanyakan siswa, kenangan mengunjungi museum, atau ke situs sejarah in situ, atau ke tempat-tempat bersejarah lainnya, pada waktu mereka bersekolah juga cukup lama melekat. Tetapi sayangnya, keniscayaan ini tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang lain dialami dunia kependidikan di negeri ini: (a) kebanyakan mereka mengunjungi museum hanya pada waktu bersekolah di tingkat Sekolah Dasar, (b) hampir dipastikan bahwa kunjungan ke museum dilakukan setelah selesai seluruh proses pembelajaran semester, bukan dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran, (c) sejak pemberlakukan program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) kebanyakan SD negeri tidak lagi mengunjungi museum, karena kehilangan sumber dana untuk melaksanakan program kunjungan museum, (d) jam pelajaran sejarah yang sangat terbatas. Satu jam pelajaran bagi siswa kelas X dan XI/XII program IPA. Angka itu lebih kecil lagi bagi SD-MI/SMP-MTs/SMK, yang mengintegrasikan materi sejarah sebagai bagian dari pelajaran IPS.
Museum sesungguhnya memiliki fungsi pelayanan yang berhubungan dengan kebutuhan ruhaniah dan mentalitas publik. Untuk itu, museum melakukan usaha pengoleksian, konservasi, riset, komunikasi (memamerkan) benda nyata warisan masa lalu, kepada masyarakat sekarang untuk kebutuhan studi, pendidikan dan rekreasi. Orang tua, guru dan sekolah, harus dapat menyadarkan pentingnya kebutuhan studi, pendidikan dan rekreasi ini kepada anak-anak atau siswanya. Kesadaran akan kebutuhan ini pada akhirnya akan menghasilkan generasi yang sadar akan pentingnya museum dan tempat-tempat bersejarah lainnya.
Apabila kesadaran akan kebutuhan studi, pendidikan dan rekreasi ini mucul pada generasi muda kita, maka fungsi museum sebagai (a) pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, (b) pusat penyaluran ilmu untuk umum, (c) pusat penikmatan karya seni, (d) pusat perkenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa, (e) objek wisata, (f) media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan, (g) suaka alam dan suaka budaya, (h) cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan, serta (i) sebagai sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan yang Mahaesa, akan dengan mudah terwujud.
Untuk itu museum dan tempat-tempat bersejarah harus pandai-pandai ”mengundang” pembelajar (siswa) dan ”mengundang” pendamping pembelajar (orang tua, guru, sekolah). Selain penataan display koleksi yang memikat, program kunjungan museum, event seminar di museum, event lomba di museum, harus makin sering dipopulerkan. Tak kalah pentingnya juga publikasi tulisan tentang museum dan koleksinya, akan menjadi propaganda yang murah dalam rangka menjadikan museum sebagai pusat sumber belajar yang mengundang.
Pada sisi yang lain, guru Sejarah/IPS harus pandai-pandai menyiasati waktu pembelajaran yang sangat terbatas, misalnya dengan mengkolaborasikan sejarah dengan pelajaran-pelajaran terkait. Sebuah tema tentang ”Kunjungan ke Museum Bank Indonesia” bisa merupakan kolaborasi dari pembelajaran sejarah, ekonomi, sosiologi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa daerah, seni rupa, dan matematika. Dengan demikian, satu hari kunjungan ke museum, akan menghasilkan pembelajaran yang maksimal bagi siswa, karena siswa tidak hanya terundang untuk memperoleh pembelajaran sejarah, tetapi juga terundang untuk memperoleh pembelajaran lainnya.
Catatan Akhir
Arsip Nasional RI (ANRI) pernah mempublish perangkat pembelajaran sejarah SMA, berupa perencanaan mengajar dan copy sumber yang dapat dipakai sebagai media pengajaran, serta menerbitkan beberapa video dokumenter sebagai sumber belajar. Selain sangat membantu dunia pendidikan, langkah ANRI ini membawa hidden curriculum bagi generasi baru: mencintai dokumentasi dan memahami pentingnya badan ANRI atau Arsip Daerah.
Museum hendaknya juga mengambil peran serupa, untuk membidik generasi baru agar tidak melupakan akar sejarahnya dengan cara menjadikan dirinya sebagai ”pengundang bagi pembelajar”.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah harus mengambil peran aktif untuk mendukung kondisi ini. Sekolah dan guru, harus pro-aktif dalam memainkan peran sebagai pengantar generasi muda untuk lebih mencintai museum. Tidak salah jika orang tua memprogramkan kunjungan museum bagi anggota keluarganya, karena mengunjungi museum merupakan kegiatan rekreasi yang murah tetapi bermuatan edukasi.










